Muhammad Irfan Zain

Penjelasan Hadits Tentang Tata Cara Shalat

Hadits

عَنْ عَائِشَةَ رَضيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم يسْتَفْتِحُ الصلاةَ بِالتَّكْبِيرِ، وَالْقِرَاءة بـ “الْحمْدُ لله رَب الْعَالَمِينَ “. وَكَانَ إذا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رأسه وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلكِنْ بَيْنَ ذَلكَ. وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رأسه مِنَ الركوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوي قَائِماً. وَكَانَ إذَا رَفع رَأسَهُ مِنَ السًجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَستَوِيَ قاعدا، وكانَ يقولُ في كُلّ ركْعَتَيْن التّحيّةَ. وَكَانَ يَفْرش رجلَهُ اليُسْرَى وَيَنْصِب رجله الْيُمْنىَ. وكان ينهى عَنْ عُقبَة الَشَّيْطَان ويَنْهَى أنْ يَفتَرِش الرجُلُ ذِراعَيْهِ افتراش السبعِ، وَكان يَخْتِمُ الصّلاةَ بالتّسْلِيم

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata; “Rasulullah senantiasa membuka shalatnya dengan takbiratul ihram, dan memulai bacaannya dalam shalat dengan membaca “alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin”. Ketika ruku’, Beliau tidak terlalu menengadahkan kepala dan tidak juga terlalu menundukkannya; namun antara keduanya. Ketika Beliau mengangkat kepalanya dari ruku, tidaklah Beliau turun untuk sujud melainkan ketika Beliau telah sempurna berdiri I’tidal. Ketika mengangkat kepala setelah ruku, tidaklah kembali Beliau sujud melainkan ketika Beliau telah duduk dengan sempurna (duduk antara dua sujud). Pada setiap dua rakaat, Beliau bertahiyat. Pada setiap dua rakaat, Beliau duduk iftirasy. Beliau melarang seorang duduk ketika shalat dengan cara yang menyerupai duduknya syaithan. Beliau juga melarang seorang membentangkan lengannya ketika sujud sama dengan hewan buas. Dan Beliau menutup shalat dengan salam.”.

Beberapa pelajaran dari hadits
1. Hadits ini kembali menegaskan kewajiban melakukan takbiratul ihram, dan bahwasanya pekerjaan itu adalah satu diantara rukun shalat, tidak sah shalat seorang kecuali dengan mengerjakannya.

2. Dengan melakukan takbiratul ihram, maka segala perkataan atau perbuatan selain perkataan atau perbuatan shalat tidak lagi boleh dilakukan.

3. Termasuk yang tidak boleh dilakukan ketika shalat adalah membaca al Quran ketika sujud, kecuali jika yang dibacanya itu adalah ayat yang berisi doa dan diniatkan untuk berdoa (bukan untuk membaca al Quran)

4. Hadits ini adalah diantara dalil kelompok ulama yang berpendapat bahwa basmalah bukan merupakan satu diantara ayat-ayat surah al Faatihah. Sebagaimana hadits ini juga adalah satu diantara dalil kelompok yang menyatakan bahwa tidak dianjurkan membaca basmalah dengan suara keras ketika membaca al Faatihah pada shalat-shalat jahriyyah. Namun masalah ini masuk dalam ranah khilafiyyah, in sya Allah akan dibahas secara tersendiri setelah uraian point-point pelajaran hadits ini.

5. Hadits ini juga menunjukkan bahwa ruku adalah satu diantara kewajiban –bahkan rukun- shalat.

6. Ketika ruku dianjurkan untuk tidak terlalu menengadahkan kepala dan tidak juga terlalu menundukkannya. Namun hendaknya sejajar, melihat tempat sujudnya.

7. Kewajiban dan rukun lain dalam shalat adalah bangkit dari ruku, I’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, tasyahhud, dan salam, serta tumakninah (tenang dan tidak terburu-buru) dalam setiap gerakan shalat.

8. Dilarang duduk menyerupai duduknya syaithan, yang diistilahkan dengan sebutan “الإقعاء”. Jenis duduk yang dilarang itu yaitu dengan membentangkan kedua telapak kaki dan duduk diatasnya; atau dengan mengangkat kedua telapak kaki (hingga bagian telapak kaki tersebut terlihat dari belakang) dan duduk di lantai, diantara keduanya.

9. Dilarang membentangkan lengan dengan menempelkannya ke lantai disaat sujud. Hal itu adalah satu diantara indikasi kemalasan.

Beberapa masalah kontroversi
1. Apakah basmalah termasuk satu dari ayat-ayat dalam surah al Faatihah ?
2. Apakah imam membaca basmalah dengan suara keras pada shalat-shalat jahriyyah ?
3. Apakah disyari’atkan bersedekap ketika bangkit dari ruku ?
4. Bagaimanakah jenis duduk yang disyari’atkan ketika tasyahhud ?
5. Apakah yang seharusnya diletakkan terlebih dahulu ketika turun untuk sujud; lutut atau tangan ?

Bahasan

1. Apakah basmalah termasuk satu dari ayat-ayat dalam surah al Faatihah ?
Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini;
*) Sebagian mengatakan bahwa basmalah tidak termasuk satu diantara ayat dalam surah al Faatihah. Diantara alasannya adalah;
a. Hadits ke-2 ini, Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha Beliau berkata; “Rasulullah senantiasa membuka shalatnya dengan takbiratul ihram, dan memulai bacaannya dalam shalat dengan membaca “alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin”.
b. Hadits Qudsi, Rasulullah bersabda;

«قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى – و إِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ ». رواه مسلم

Sama dengan hadits Aisyah tadi, dalam hadits ini tidak ada penyebutan basmalah mengawali surah al Fatihah; hal mana menunjukkan bahwa basmalah itu bukanlah satu diantara ayat dalam surah al Faatihah.
Hal lain yang juga menguatkan pendapat ini bahwa dalam hadits Qudsi tersebut Allah membagi surah ini menjadi 2 bagian; satu bagian untuk Allah dan satu bagian lagi untuk makhluk. Maka jika dicermati dari komposisi pembagian itu akan diketahui bahwa pendapat yang menyatakan ayat pertama dari surah al Faatihah itu adalah “alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin” adalah pendapat yang lebih tepat, karena lebih sesuai dengan komposisi pembagian yang telah disebutkan tadi;

Pembagian pertama :

 3 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 1 الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 2 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Untuk Allah, berisi pujian kepada Nya

Pembagian kedua :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ 4

Untuk Allah dan makhluk Nya, pernyataan keberserahdirian hamba kepada Allah dan permohonan hamba kepada Nya agar Ia senantiasa menolongnya.

Pembagian ketiga :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (5) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ (6) غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ 7

Untuk makhluk, doa hamba kepada Allah.

Mencermati komposisi ini, sebagian menyimpulkan bahwa pendapat inilah yang lebih tepat daripada pendapat yang memasukkan basmalah sebagai satu dari ayat surah al Faatihah.

*) Pendapat kedua dalam masalah ini adalah yang menyatakan bahwa basmalah adalah ayat pertama dari 7 ayat dalam surah al Faatihah. Dalil mereka adalah;

a. Hadits Abu Hurairah, Rasulullah bersabda ;

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ – سَبْعُ آيَاتٍ إِحْدَاهُنَّ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقِرَانُ الْعَظِيمُ ، وَهِيَ أُمُّ الْقُرْآنِ وَهِيَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ. _ رواه البيهقي

Surah al Faatihah itu terdiri dari 7 ayat. Satu diantara ke-7 ayatnya adalah “bismillahirrahmaanirrahiim”. Surah ini juga dinamakan “as sab’u al matsaani”, “ummul quran” dan “faatihatu al kitaab”.

b. Hadits Ummu Salamah,

أَنَّهَا ذَكَرَتْ قِرَاءَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ) يَقْطَعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةً. _ سنن أبى داود-ن 4/ 65

Beliau menyebutkan cara Rasulullah membaca al Faatihah, Rasulullah berkata; “Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin, dst”, Beliau memenggal-menggal bacaannya ayat per ayat.

Pendapat Rajih (Terpilih)

Dari kedua pendapat ini, sebagian ulama mengatakan bahwa yang paling tepat adalah pendapat yang mengakomodir seluruh hadits atau keterangan-keterangan shahih berkenaan dengan masalah ini. Mereka berpendapat bahwa seluruh keterangan yang disampaikan dalam uraian sebelumnya adalah keterangan shahih, dan olehnya itu maka seluruh pendapat yang disampaikan boleh digunakan;
*) Boleh menyatakan basmalah itu satu diantara ayat dalam surah al Faatihah
*) Boleh juga menyatakan bahwa basmalah itu bukan termasuk ayat dalam surat al Faatihah

Menegaskan hal tersebut adalah mushaf yang ada saat ini memiliki beberapa jenis qira’ah. Diantara mushaf itu, ada yang mencantumkan basmalah sebagai ayat pertama. Dan diantaranya lagi ada yang mencantumkan alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin sebagai ayat pertama.

Dan olehnya itu juga maka pendapat yang terpilih untuk pertanyaan kedua adalah kedua-duanya boleh dilakukan; boleh bagi imam membacanya secara keras pada shalat jahriyyah dan boleh juga membacanya dengan suara pelan.

2. Apakah imam membaca basmalah dengan suara keras pada shalat-shalat jahriyyah ?

Telah dijawab pada jawaban dari pertanyaan nomor satu.

Tambahan penjelasan silahkan simak di

3. Apakah disyari’atkan bersedekap ketika bangkit dari ruku ?

Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat dikalangan ulama;

*) Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa bersedekap pada saat I’tidal adalah pekerjaan yang disyari’atkan.

Diantara alasannya adalah keterangan umum yang menyebutkan tentang perintah bersedekap ketika berdiri dalam shalat. Jika demikian, maka bersedekap pada seluruh keadaan dimana seorang berdiri ketika shalat adalah hal yang diperintahkan; juga termasuk didalamnya berdiri ketika I’tidal.

*) Ulama lain berpendapat bahwa bersedekap itu hanya diperintahkan ketika berdiri sebelum ruku.

Diantara dalilnya adalah dalil-dalil yang juga digunakan oleh kelompok pertama. Mereka berkata; seluruh dalil tersebut tertuju pada keadaan berdiri sebelum ruku. Dan tidak satupun keterangan yang berisi anjuran bersedekap ketika berdiri di saat I’tidal.

Pendapat Terpilih

Dari dua pendapat yang telah disebutkan, maka sebagian ulama lebih memilih pendapat kedua. Diantara alasannya adalah; mengingat ketelitian para sahabat dan ulama-ulama hadits setelahnya dalam menukil sedetail dan sekecil apapun perbuatan Rasulullah ketika shalat, hingga diamnya Beliaupun tidak luput dari rasa ingin tahu mereka –seperti disebutkan dalam hadits doa iftitah, pada artikel sebelum ini-. Mempertimbangkan hal itu, maka adalah hal yang sangat sulit terbayangkan jika tidak satupun dari mereka yang menyebutkan perintah bersedekap pada saat I’tidal.

Tambahan penjelasan silahkan simak di

4. Bagaimanakah jenis duduk yang disyari’atkan ketika tasyahhud ?

Masalah inipun diperselisihkan para ulama;

  • Ulama madzhab Malik berpendapat bahwa jenis duduk yang dianjurkan ketika tasyahhud adalah duduk tawarruk; baik pada duduk tasyahhud awal atau pada tasyahhud terakhir. Alasannya adalah hadits yang disandarkan kepada Umar bahwa Beliau pernah mencontohkan duduk tawarruk ketika tasyahhud.
  • Ulama madzhab Abu Hanifah berpendapat bahwa jenis duduk yang dianjurkan ketika tasyahhud adalah duduk iftirasy; baik pada duduk tasyahhud awal atau pada tasyahhud terakhir. Alasannya adalah hadits yang juga disandarkan kepada Umar, Beliau berkata; “Duduk iftirasy itu adalah sunnah (ketika tasyahhud).”.
  • Ulama madzhab Syafi’ie berpendapat bahwa jenis duduk yang dianjurkan ketika tasyahhud itu adalah duduk iftirasy untuk tasyahhud pertengahan ; dan duduk tawarruk untuk tasyahhud akhir. Alasannya adalah hadits Abu Humaid as Saa’idiy yang menyebutkan bahwa Rasulullah duduk iftirasy ketika tasyahhud awal dan duduk tawarruk ketika tasyahhud pada rakaat terakhir.
  • Ulama madzhab Hambali berpendapat bahwa jenis duduk yang dianjurkan ketika tasyahhud pada shalat yang hanya terdiri dari 2 rakaat adalah duduk iftirasy. Diantara alasannya adalah hadits Aisyah ini (hadits ke-2 ini), Aisyah berkata; ” Pada setiap dua rakaat, Rasulullah duduk iftirasy.”. Mereka simpulkan dari hadits ini bahwa duduk iftirasy itu adalah duduk yang dianjurkan untuk shalat yang terdiri dari 2 rakaat. Sedangkan duduk tawarruk itu hanya dianjurkan pada rakaat terakhir bagi shalat yang terdiri dari dua kali tahiyyat.

Pendapat Terpilih

Dari ke-4 pendapat yang dikemukakan maka sebagian ulama lebih condong kepada pendapat dari madzhab Syafi’ie karena pendapat ini lebih mengakomodir dalil-dalil yang ada dalam masalah ini.

Sanggahan

Adapun jawaban terhadap dalil yang digunakan oleh madzhab Malik (dalil dari Umar bin Khatthab), maka mungkin disanggah dengan menyatakan bahwa dalil tersebut sifatnya umum. Dalil umum itu mungkin diberlakukan secara khusus untuk duduk tasyahhud terakhir. Adapun untuk duduk tasyahhud awal, maka yang dianjurkan adalah duduk iftirasy berdasarkan keterangan yang juga disandarkan kepada Umar. Dengan ini maka dapat disinkronkan antara dua riwayat berbeda, dari sumber yang sama tadi, yaitu dari Umar bin Khatthab ini.

Adapun jawaban terhadap dalil yang digunakan oleh madzhab imam Abu Hanifah, maka dapat disanggah dengan menggunakan argument yang sama ketika menyanggah madzhab Malik.

Sedangkan dalil dari madzhab imam Ahmad, maka sifatnya pengambilan dalil secara dzhahir. Aisyah berkata; “Setiap dua rakaat Rasulullah duduk iftirasy.”. Pertanyaan yang dilayangkan setelahnya adalah, “Apakah meski rakaat itu adalah rakaat terakhir ?”. Jawabannya, “Secara dzhahir (tekstual) dipahami bahwa meski rakaat itu adalah rakaat terakhir.”.

Tetapi makna dzhahir ini akan menjadi lemah jika dibandingkan dengan kandungan makna dari dalil yang digunakan oleh ulama madzhab Syafi’ie. Dalil yang dimaksud adalah hadits Abu Humaid as Saa’idiy yang menjelaskan cara shalat Rasulullah. Beliau berkata; “Ketika duduk tasyahhud pada rakaat ke-2, Rasulullah duduk iftirasy. Dan ketika duduk tasyahhud pada rakaat akhir, Beliau duduk tawarruk.”. Pernyataan Beliau, “Ketika duduk tasyahhud pada rakaat akhir, Beliau duduk tawarruk.”; -pernyataan ini- sangat jelas menunjukkan bahwa cara duduk tasyahhud yang diajurkan pada “rakaat terakhir” adalah tawarruk. Hal ini akan lebih jelas lagi dengan melihat redaksi lain dari hadits ini, “Ketika duduk tasyahhud pada sujud yang setelahnya adalah salam.”. Sekali lagi pernyataan hadits ini secara jelas menunjukkan cara duduk tasyahhud yang dianjurkan ketika rakaat terakhir. Teks yang mengandung makna yang jelas seperti ini diistilahkan dengan sebutan “nash”.

Ulama ushul fiqh berkata jika ada dua dalil yang secara kasat mata bertentangan; satu diantara dalil tersebut sifatnya “dzhahir” dan yang lain adalah “nash”, ketika itu dalam penetapan hukum hendaknya didahulukan penetapannya dengan merujuk pada hadits yang menunjukkan makna “nash”. Olehnya maka sebagian ulama lebih memilih pendapat madzhab syafi’ie daripada pendapat madzhab Hambali; karena madzhab Syafi’ie berdalil dengan merujuk pada makna dalil yang bersifat nash, sedangkan madzhab Hambali mengambil kesimpulan hukum dengan merujuk pada makna dzhahir dari hadits Aisyah.

Tambahan penjelasan silahkan simak di

5. Apakah yang seharusnya diletakkan terlebih dahulu ketika turun untuk sujud; lutut atau tangan ?

Masalah ini juga adalah satu diantara sekian masalah kontroversi yang telah dibahas semenjak dahulu. Sebagian ada yang berpendapat tangan terlebih dahulu (pendapat I) dan sebagian lagi ada yang berpendapat lutut terlebih dahulu (pendapat II).

Diantara dalil yang digunakan oleh ulama yang menyatakan “tangan terlebih dahulu” (pendapat I) adalah hadits Abu Hurairah, Rasulullah bersabda;

إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ، وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

“Apabila salah seorang dari kalian sujud, maka janganlah ia turun untuk sujud sama dengan cara turunnya unta. Namun hendaknya ia dahulukan kedua tangannya, sebelum meletakkan kedua lututnya.”.

Menanggapi dalil yang dinyatakan dalam pendapat I ini, ulama yang condong pada pendapat II berkata bahwa hadits Abu Hurairah ini tidak sinkron; diawalnya ada larangan menyerupai unta ketika turun, sedangkan pada penggalan keduanya ada perintah untuk mendahulukan tangan sebelum lutut ketika turun, yang secara kasat mata justru serupa dengan cara turunnya unta.

Mempertimbangkan argument diatas, maka ulama yang condong pada pendapat II menyatakan bahwa ada kesalahan redaksional dalam hadits Abu Hurairah tadi. Lafadz;

…. وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

“Hendaknya ia dahulukan kedua tangannya sebelum meletakkan kedua lututnya”, -lafadz ini- salah, dan seharusnya;

…. وَلْيَضَعْ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ

“Hendaknya ia meletakkan kedua lututnya terlebih dahulu sebelum meletakkan kedua tangannya.”.

Memperkuat koreksian ini adalah hadits Waail bin Hujr, Beliau berkata;

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ، وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْه

“Saya melihat Rasulullah meletakkan kedua lututnya terlebih dahulu ketika sujud sebelum meletakkan kedua tangannya. Dan apabila bangkit dari ruku hendak berdiri, Beliau angkat kedua tangannya terlebih dahulu sebelum mengangkat kedua lututnya.”.

Hal lain yang juga lebih memperkuat pendapat II ini adalah adanya kesesuaian perintah yang disebutkan dalam hadits Waail ini dengan urutan susunan tubuh manusia ketika turun untuk sujud, dan ketika naik dari sujud untuk kembali berdiri.

Dalam kondisi normal, ketika turun untuk sujud, seharusnya yang terlebih dahulu sampai ke tanah adalah anggota tubuh yang lebih dekat dengan tanah, kemudian yang lebih jauh, secara berurut; lutut-tangan-wajah. Demikianlah juga ketika bangkit dari sujud hendak berdiri. Sewajarnya yang lebih dahulu diangkat adalah anggota tubuh yang terjauh dari tanah, kemudian yang lebih dekat secara berurut; wajah-tangan-lutut.

Maka jika ketika turun untuk sujud, didahulukan tangan, lutut kemudian wajah; dan ketika bangkit dari sujud untuk berdiri, didahulukan wajah, lutut, kemudian tangan; dengan itu berarti ia telah melakukan sebuah pekerjaan yang secara wajar tidak dilakukan dalam kondisi normal. Sedangkan syari’at agama ini secara umum bersesuaian dengan kondisi normal yang melingkupi seseorang.

Tambahan penjelasan silahkan simak di

Print Friendly, PDF & Email
%d bloggers like this: