Muhammad Irfan Zain

Kenali Mereka dan Waspadalah …!

Sahabat AF (majalah Al Firdaus) yang budiman, Islam yang kita kenal saat ini tidaklah mungkin dapat sampai kepada kita kecuali melalui para pengembannya. Olehnya itu, Allah menurunkan al Quran dan mengutus para Rasul sebagai pengemban pertama dan penyampai risalah ini kepada seluruh umat manusia.

Tentu para sahabat AF telah tahu bahwa pengemban risalah terakhir dari Allah kepada seluruh manusia adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nah, untuk membantu Beliau dalam melaksanakan tugas penyebaran risalah ini, maka Allah memilih buat Beliau orang-orang terbaik sebagai pendamping setianya. Mereka itulah para sahabat;

  • Allah berfirman;

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  _ التوبة: 100

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepadaNya. Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. [At Taubah : 100].

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (generasi sahabat), kemudian zaman berikutnya (taabi’ien) dan kemudian zaman berikutnya (atbaut taabi’ien).”. (HR. Bukhari, no. 2472)

  • Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang para sahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-;

كَانُوا خَيْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ ، أَبَّرَهَا قُلُوبًا ، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا ، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا ، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللَّهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَقْلِ دِينِهِ

“Mereka adalah orang-orang terbaik dari ummat ini. Mereka adalah orang yang paling tulus hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit berlaku berlebihan dalam beragama (takalluf). Mereka adalah kaum yang telah Allah pilih untuk mendampingi Rasulullah dan menyampaikan agama yang mulia ini.”. (Hilyatu al Auliyaa’, no. 1098)

Perjalanan dakwah selalu penuh dengan hambatan, demikianlah sunnatullah. Diantara hambatan dakwah adalah upaya-upaya yang intens dari para pendengki untuk menghancurkan Islam dalam jiwa para penganutnya. Diantaranya dengan menanamkan mosi tidak percaya kepada orang-orang pertama yang telah menyampaikan risalah ini kepada manusia.

Nah, bila misi ini berhasil, tentu bisa dibayangkan bagaimana jadinya agama ini ?; dipermainkan, diarahkan kesana-kemari, dan diobok-obok seenaknya.

Maka salah satu kelompok yang sekarang ini terkenal tengah menjalankan misi ini secara intens adalah syi’ah. Coba sahabat Af bayangkan ;

  • Seorang ulama Syi’ah Al-Kisysyi mengkafirkan mayoritas sahabat Rasulullah. Ia berkata dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13), dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.”.[1].
  • Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.”.[2].
  • Bahkan dalam sebuah ceramah, seorang ulama Syi’ah di Iran mencela Ummul Mu’minin ‘Aisyah dengan mengatakan bahwa sebutan al humaira (kemerah-merahan) yang diberikan Nabi kepada ‘Aisyah bukanlah berasal dari kata “al-hamra” (merah), tapi berasal dari kata al himar (keledai), sehingga al humaira tidak diartikan sebagai “yang kemerah-merahan” namun menjadi “yang seperti keledai”[3].

Sahabat AF yang dimuliakan Allah, inilah satu diantara perbedaan mendasar antara sunni dan syi’ah. Perbedaan yang tidak akan mungkin ditolelir oleh orang-orang beriman. Perbedaan yang selanjutnya membuat ulama kaum muslimin sunni mengeluarkan syi’ah dari wilayah Islam dan menjadikannya sebagai sebuah agama tersendiri. Sekali lagi hal ini –salah satunya- didasarkan pada apa yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa agama ini tidak akan mungkin tegak melainkan dengan para pengembannya. Lantas jika saat ini kita tidak lagi percaya dengan para sahabat Rasulullah sebagai penyampai awal risalah ini setelah wafatnya Rasulullah, kepada siapa lagi kita akan percaya ?!!. Olehnya sungguh amat tepatlah jika dikatakan bahwa keyakinan yang diusung oleh syi’ah terhadap para sahabat Rasulullah sesungguhnya lebih buruk dari Yahudi dan Nashrani. Jika ditanyakan kepada orang-orang Yahudi: siapakah orang terbaik dalam agama kalian?. Maka jawab mereka: sahabat-sahabat Musa. Dan umat Islam menyepakatinya. Jika kita tanyakan kepada orang-orang Nasrani: siapakah orang-orang terbaik dalam agama kalian?. Mereka jawab: sahabat-sahabat Isa. Namun, jika kita bertanya kepada orang-orang Syi’ah: siapakah orang-orang terburuk dalam agama kalian?. Maka mereka akan menjawab: para sahabat Nabi[4]. Maka, apakah ada yang lebih buruk daripada pemahaman seperti ini dalam menilai kedudukan para sahabat Nabi?.

Berikut ini sahabat Af, rekomendasi MUI tentang paham Syiah yang dikeluarkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada bulan Maret 1984 :

Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.

Perbedaan itu di antaranya :

  1. Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.
  2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
  3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
  4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat.
  5. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah. –selesai-[5].

Nah, menutup uraian ini sahabat Af, hendaknya kita semua senantiasa membentengi diri dengan niat yang tulus dan ilmu yang benar agar kita terhindar dan tidak mudah terpengaruh dengan berbagai pemikiran keagamaan menyimpang yang dewasa ini lagi marak-maraknya. Dan jika ada pemikiran keagamaan baru yang mengusik keingintahuan anda, maka janganlah segan untuk bertanya terlebih dahulu kepada orang-orang yang berkompeten. Jangan biarkan diri anda larut dalam syubhat, yang pada akhirnya akan membuat anda semakin jauh dari cahaya Allah.

 

____________

[1]http://www.voa-islam.com/counter/liberalism/2011/06/02/15084/sunni-dan-syiah-tak-mungkin-disatukan-menanggapi-deklarasi-majelis-sunnisyiah/

[2] -sda-

[3] -sda-

[4]http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=1886&idto=1886&bk_no=51&ID=1928

[5]http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/12/01/19/ly1k42-fatwa-mui-waspadai-paham-syiah ; http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2011/05/23/14863/inilah-fatwa-mui-palsu-yang-menyatakan-faham-syiah-tak-sesat/ ; http://mui.or.id/wp-content/uploads/2014/05/06.-Faham-Syiah.pdf

Print Friendly, PDF & Email
%d bloggers like this: