Muhammad Irfan Zain

Arahkanlah secara benar

Hukum agama berkenaan dengan perbuatan hamba ada lima, yaitu; wajib, Sunnah, mubah, makruh dan haram.

Penetapan hukum agama sebuah perkara harus dilakukan secara benar berdasarkan dalil yang benar. Atas dasar itu maka;

  1. Menyatakan yang wajib itu adalah haram, adalah haram
  2. Menyatakan yang haram itu adalah wajib, adalah haram
  3. Menyatakan yang Sunnah itu adalah makruh, adalah haram
  4. Menyatakan yang makruh itu adalah Sunnah, adalah haram

Sebagaimana menyatakannya adalah haram, demikian juga membawa opini orang untuk meyakini hukum sesuatu secara salah, pun adalah haram, bahkan meski ia tidak menyatakannya secara jelas.

Seluruh yang disebutkan tadi menjadi haram karena masuk dalam kategori menyandarkan sesuatu kepada Allah tanpa disertai dalil yang jelas dan benar.

Demikianlah pula dalam perkara mubah ;

Bermain bulu tangkis adalah mubah, berbelanja adalah mubah, berekreasi adalah mubah, bermain bola adalah mubah, berselancar dalam dunia maya adalah mubah, berteman serta berinteraksi lewat social media adalah mubah.

Sebagaimana penjelasan diatas, maka mengubah hukum perkara mubah menjadi makruh atau bahkan menjadi haram, pun adalah haram. Demikian juga hukum yang sama dinyatakan kepada mereka yang berusaha menggiring opini orang untuk meyakini hal mubah itu sebagai perkara makruh atau bahkan haram.

Lantas bagaimana dengan saudara kita yang pada akhirnya terjerumus kepada perkara haram, berawal karena sebuah perkara mubah ?. Bukankah kita perlu menasehatinya agar tidak melampaui batas dalam perkara-perkara mubah ?

Menasehati saudara kita agar tidak menyalahgunakan atau berlebihan terhadap perkara mubah adalah satu diantara kewajiban seorang muslim terhadap saudaranya. Tetapi jangan sampai merubah hukum agama atau merubah mindset orang terhadap hukum agama sebuah perkara.

Berinteraksi lewat social media adalah mubah. Maka jelaskanlah bahwa itu adalah mubah. Namun ingatkanlah juga mereka bahwa meski perkara tersebut adalah mubah, tetapi Allah menjadikannya sebagai ujian bagi kalian …

لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Agar Allah mengetahui siapa diantara kalian yang tetap takut kepada Allah meski tengah bersendiri. Maka barangsiapa bertindak melampaui batas, sungguh baginya adzab yang pedih.”. (Al Maaidah; 94). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kalian berada. Dan ikutilah kesalahan yang kalian perbuat dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menggugurkannya. Dan berinteraksilah dengan orang-orang dengan akhlak yang baik.”. (HR. Ahmad)

Wallahul musta’aan wahuwa hasbuna wa ni’mal wakiil     

Print Friendly, PDF & Email
%d bloggers like this: