Muhammad Irfan Zain

Tanya Jawab Majalah Santri VII

Bismillahirrahmaanirrahim

  1. “ Assalamualaikum, semoga ustad selalu dilidungi Allah subhaanahuwata’ala. Saya tinggal di Bandung, ingin pergi ke Jakarta menggunakan kereta api. Kereta api yang saya pesan akan berangkat dari stasiun Bandung pada pukul 15.10 WIB, sedangkan waktu ashar ketika itu belum tiba. Dan kereta akan tiba di stasiun Gambir pada pukul 18.30 dimana waktu maghrib ketika itu telah tiba. Pertanyaannya, apakah saya bisa menjama‘ sholat ashar di waktu zuhur, sedangkan saya masih di Bandung? Atau saya menjama’nya dengan sholat maghrib ketika saya sudah tiba? Atau adakah cara lain yang lebih baik? Mohon penjelasannya.”

“[jawaban]

Wa ‘alaikum salam wa rahmatullah

Bila pejalanan tersebut bisa diundur hingga selesai shalat Ashar (mengambil keberangkatan setelah Ashar), maka wajib diundur. Namun jika hal tersebut tidak mungkin dilakukan, maka tidak mengapa ia menjamak shalat dzhuhur dan Ashar, yaitu dengan melaksanakannya empat rakaat-empat rakaat, meski ketika itu ia masih berada di Bandung.

  1. “ Ketika saya di kereta, saya merasa kedinginan. Di saat saya berusaha untuk tidur, tiba-tiba saya merasa ada yang keluar dari qubul saya. Dan tatkala saya cek dicelana dalam sayaa mendapatkan cairan bening dan encer. Pertanyaannya, cairan apa itu karena setahu saya mani itu putih dan kental? Apakah saya perlu mandi? Dan bagaimana cara untuk mensucikannya? Mohon penjelasannya.”

“[jawaban]

Cairan tersebut diistilahkan dengan sebutan wadi, yaitu jenis cairan yang bening dan sedikit padat, keluar disebabkan karena keletihan, kedinginan atau sebab-sebab lain semisal dengan itu.

Jenis cairan tersebut adalah satu diantara jenis benda najis. Cara membersihkannya yaitu dengan mencuci kemaluan dan bagian pakaian yang terkena cairan tersebut.

Keluarnya cairan tersebut adalah satu diantara sebab lekatnya hadats kecil pada diri seseorang. Dan kewajiban seorang yang berhadats kecil ketika akan melaksanakan shalat atau ibadah-ibadah lain yang mewajibkannya berthaharah adalah berwudhu, dan bukan mandi junub.

  1. “ Akhirnya saya sudah sampai di Jakarta. Saya akan tinggal di sana selama sepekan. Pertanyaannya, apakah saya masih bisa menjama’ dan mengqoshor sholat? Dan apa syarat dari keduanya? Mohon penjelasannya.”

“[jawaban]

Menjamak dan mengqashar shalat adalah satu diantara keringanan agama yang diberikan kepada musafir (orang-orang yang tengah safar). Nah, adakah batasan waktu tertentu bagi seorang yang telah tiba di tempat tujuan safarnya, ketika itu ia tidak lagi dikategorikan sebagai musafir ?.

Mayoritas ulama menetapkan bahwa penetapan seorang itu mukim atau musafir tergantung pada niatnya. Dikatakan tergantung niat, karena bisa jadi seseorang menetap dalam waktu lama di suatu tempat dalam perjalanannya, namun dia tidak pernah berniat untuk menetap di tempat itu selama jangka waktu tersebut. Bila demikian, maka ia tetap digolongkan sebagai musafir meski ia tinggal berhari-hari di tempat tujuan safarnya itu. Contoh :

Jika seorang melakukan perjalanan dinas dengan waktu yang belum diprediksi; ia akan balik secepatnya, jika urusannya selesai. Dalam kondisi ini, beberapa ulama menyatakan bahwa ia tetap digolongkan sebagai musafir dan boleh baginya memanfaatkan keringanan agama, diantaranya berupa shalat jamak-qashar. Diantara dalilnya adalah beberapa keterangan yang menyebutkan bahwa para sahabat pernah mengqashar shalatnya berhari-hari ketika singgah di sebuah tempat;

  1. Riwayat Ibnu Abbas –radhiyallahu ’anhuma-;

أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

“Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam- pernah menetap di Mekkah selama 19 hari dan selama itu Beliau mengqashar shalatnya.”.

  1. Riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ’anhuma-;

أقام رسول الله بخيبر أربعين ليلة يقصر الصلاة

“Rasulullah pernah menetap di Khaibar selama 40 malam, dan ketika itu Beliau menqashar shalatnya.”.

Namun jika seorang datang ke suatu kota dengan program yang sudah pasti, misalnya mengikuti training selama 5 hari, atau melanjutkan pendidikan selama 4 tahun, dll ; dikatakan bahwa orang tersebut sudah berniat sejak awal untuk menetap (mukim) di kota itu, meski hanya 5 hari saja atau 4 tahun. Dalam keadaan demikian, maka mayoritas ulama menyatakan bahwa batas waktu mukim seorang masih dikategorikan sebagai musafir adalah 4 hari. Jika lewat dari batas waktu itu, maka hukum-hukum yang berlaku baginya kembali ke asal, yaitu hukum seorang yang mukim. Demikianlah amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melaksanakan haji wada’. Beliau tiba di Mekkah, pada subuh hari ke-4 bulan Dzulhijjah. Lantas Beliau melaksanakan shalat dengan qashar selama 4 hari, yaitu hingga hari tarwiyah. Pada hari tarwiyah (hari ke-8) itu, Beliau shalat subuh dan keluar menuju Mina. Wallahu a’lam bisshawaab

 

Syukron wa Jazaakallahu Khairan atas semua jawabannya. Semoga pertanyaan diatas bisa menjadi bahan pembelajaran buat saya pribadi dan siapa saja yang membacanya.”

Print Friendly, PDF & Email
%d bloggers like this: