Muhammad Irfan Zain

Shalat di tempat ibadah orang kafir

Sebagian kaum muslimin terkadang tidak menemukan tempat melaksanakan shalat jum’at atau sahalat jama’ah sehingga mereka terpaksa melaksanakannya di gereja,  atau di sinagog, atau tempat ibadahnya orang-orang kafir lainnya. Apa hukum shalat ditempat-tempat diatas ?

Para ulama berbeda pendapat dalam hal hukum melaksanakan shalat di gereja, yaitu :

  1. Jumhur ( kebanyakan ) ulama mengharamkan shalat di gereja, dalil mereka :

a. Umar dan Ibnu ‘Abbas pernah menolak melaksanakan shalat didalam gereja

b. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak mendirikan shalat di gereja, dan bersabda : “Tempat tersebut menjadi tempat berkumpulnya syaithan”. Diketahui dari hadits tersebut bahwa tempat-tempat ibadah orang kafir adalah tempat  yang disenangi syetan, oleh karenanya kita dilarang mendirikan shalat didalamnya. ( Hasyiyatu  Raddu Al Mukhtar 1/411 ).

  1. Madzhab Hanabilah membolehkan shalat digereja atau tempat ibadah orang kafir lainnya.

Ibnu Qudamah mengatakan: “Dibolehkan seseorang shalat dalam gereja yang bersih, sebagaimana  Al Hasan, Umar ibnu Abdu Al ‘Aziz, al Auza’iy, said ibnu Abdu Al ‘aziz demikian pula pendapat ini diriwayatkan dari “Abdullah ibnu ‘Umar dan Abu Musa. Sedangkan Ibnu ‘Abbas dan imam Malik memakruhkan hal tersebut disebabkan oleh gambar dan lukisan yang ada didalamnya. Namun pendapat kami bahwa hal tersebut boleh karena Rasulullah pernah shalat di dalam ka’bah padahal didalamnya masih ada patung. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika waktu shalat telah tiba maka shalatlah dimaanpun kalian berada, karena sesungguhnya tempat itu seperti masjid”. ( Al Mughny, 1/759 ).

  1. Riwayat lain yang juga disandarkan kepada imam Ahmad, membolehkan shalat dalam gereja selama tidak ada patung-patung maupun gambar didalamnya.

Ibnu Taimiyah mengatakan : “Pendapat ketiga dan ini pendapat yang lebih tepat seperti yang diriwayatkan dari ‘Umar ibnu Al Khattab dan sahabat lainnya, diikuti oleh Imam Ahmad dan selainnya. Bahwa jika dalam tempat tersebut terdapat gambar atau patung maka tidak dibenarkan shalat didalamnya, karena malaikat tidak akan masuk ketempat yang didalamnya ada gambar atau patung. Dan Rasulullah masuk ke ka’bah setelah gambar dan patung di dalamnya telah dihancurkan. ‘Umar berkata : “Kami tidak pernah masuk ke gereja mereka sedangkan gambar yang ada didalamnya belum dihilangkan”. ( Al Fatawa al Kubra, 2/59 ).

Pendapat yang rajih ( kuat dan benar ) adalah :

  1. Tidak dibenarkan mendirikan shalat digereja jika tidak terpaksa, untuk menghindari tuduhan dan prasangka buruk dan sebagai bentuk bara’ (menjauhkan diri dari) tempat ibadah orang kafir.

  2. Jika terpaksa mendirikan shalat digereja atau ditempat ibadah lainnya, karena tidak adanya tempat lain yang layak, maka hal ini dibolehkan. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian sahabat seperti Abu Musa yang pernah shalat di gereja di daerah Dimaysq ( damaskus ) yang bernama “Nahya” ( Al Mushannaf, 1/423 ). Sebagian sahabat yang lain juga pernah melakukan hal yang sama, akan tetapi kita perlu memperhatikan beberapa hal;

Beberapa nasehat bagi orang yang melaksanakan shalat di dalam gereja dan yang semisalnya :

  1. Menutup atau menurunkan gambar-gambar yang ada didalamnya sesuai kemampuan terutama saat melakukan shalat, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Umar ibnu Al Khattab : “Kami tidak akan memasuki gereja kalian karena didalamnya ada gambar dan patung”.. Ibnu ‘Abbas juga pernah shalat di Bai’ah (tempat ibadahnya orang quraisy) kecuali jika didalamnya ada gambar atau patung. ( Al Bukhari, 1/444 ).

Akan tetapi jika ia tidak mampu menutupinya atau menurunkannya maka mereka tetap dibolehkan shalat didalamnya.

  1. Saat shalat tidak boleh menghadap ke patung atau ke gambar. Dari Anas, ia berkata, bahwasanya ada Qiram (tirai tipis berwarna warni) milik ‘Aisyah digunakan untuk menghiasi dinding kamarnya, kemudian Rasulullah berkata kepadanya : “Turunkanlah tirai itu, karena gambar-gambarnya mengganggu shalatku “. ( Al Bukhary, 1/385 ).

  2. Shalat yang diperbolehkan dilaksanakan dalam gereja hanya sebatas shalat yang tidak bisa dilaksanakan di masjid atau tempat lainnya.

Ingat !!!
  1. Tidak pantas seorang muslim melaksanakan shalat di dalam gereja maupuntempat ibadah orang kafir lainnya kecuali dalam keadaan terpaksa.

  2. Jika dalam keadaan terpaksa seorang muslim dibolehkan mendirikan shalat di dalamnya dengan syarat ia menutup gambar atau patung yang ada didalam tempat itu sesuai kemampuannya.

  3. Pada saat ia sudah mampu melaksanakan shalat dimasjid atau tempat layak lainnya, maka ia diwajibkan berpindah dan melaksanakan shalat ditempat tempat tersebut.

 

Sumber : https://www.fikhguide.com/almbt3th/12

Print Friendly, PDF & Email
%d bloggers like this: