Muhammad Irfan Zain

Hadits ke-26 dan ke-27

عَنْ أُمِّ قَيْسِ بِنْتِ مِحْصَنٍ الأَسَدِيَّةِ , أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ , لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَجْلَسَهُ فِي حِجْرِهِ , فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ , فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ عَلَى ثَوْبِهِ , وَلَمْ يَغْسِلْهُ

“Dari Ummi Qais binti Mihshan Al Asadiyyah, pernah Beliau datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa bayi laki-lakinya yang belum mengkonsumsi makanan (selain ASI). Saat memangku bayi tersebut, bayi itu pipis di pakaian Rasulullah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta air dan memercikkan air tersebut ke bagian yang terkena kencing sang bayi dan Beliau tidak mencucinya.”.

وَعَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضي الله عنها أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – أُتِيَ بِصَبِيٍّ , فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ , فَدَعَا بِمَاءٍ , فَأَتْبَعَهُ إيَّاهُ. وَلِمُسْلِمٍ: فَأَتْبَعَهُ بَوْلَهُ , وَلَمْ يَغْسِلْهُ

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, pernah dihadirkan seorang bayi laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu bayi laki-laki tersebut pipis di atas pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Beliau meminta air dan memercikkan air itu ke atas bagian yang terkena kencing tersebut, dan Beliau tidak mencucinya.”.

 

Beberapa pelajaran dari hadits
  1. Kencing dari bayi laki-laki yang belum mengkonsumsi makanan selain ASI adalah najis.
  2. Cara yang cukup untuk mensucikan bagian yang terkena najis tersebut adalah dengan memercikkan air ke bagian itu.
  3. Sucinya tempat, badan atau pakaian dari najis adalah syarat sahnya shalat.
  4. Kerendahan dan sifat rahmat yang menghiasi pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat responsif kepada para orang tua yang menghadirkan anak-anaknya kepada Beliau; mengayomi anak-anak tersebut, mendoakan kebaikan untuknya dan menghadirkan kegembiraan kepada orang tua mereka.
Print Friendly, PDF & Email
%d bloggers like this: