Muhammad Irfan Zain

Barat Dalam Pandangan Masyarakat Timur (*)

Dalam tulisan sebelumya telah diulas tetntang pandangan Huntington tentang Barat. Jika Huntington memaknai Barat dengan kriteria agama, maka orang timur, khususnya Muslim memahami Barat dengan cara yang berbeda. Setidaknya terdapat empat cara pandang kelompok masyarakat ini mengenai barat.

Pertama, kalangan muslim awam yang memiliki persepsi dominan, bahwa Barat adalah simbol kemajuan teknologi, sistim pendidikan, ekonomi, tatanan sosial dan politik, disiplin, industry hiburan dan simbol-simbol kebudayaan lainnya. Karena itu segala yang berasal dari Barat diterima sebagai standar untuk menentukan kemajuan.

Kedua, kalangan muslim terpelajar yang menganggap Barat sebagai simbol kemajuan metodolgi penelitian dan pengkajian. Kajian filsafat dan ilmu-ilmu humaniora lainnya diambil sebagai model bagi segala macam ilmu, termasuk ilmu keagamaan Islam. Kelompok ini pada umumnya menganggap ilmu itu netral dan oleh karenanya mengambil ilmu apapun dari Barat tidak ada masalah asal membawa “kemajuan”. Kedua kelompok ini oleh Cheryl Bernard disebut Muslim “modernis dan sekluer”. Kelompok ini bahkan dianggap sebagai masyarakat muslim yang membantu Barat.

Ketiga, kelompok yang melihat Barat sebagai bangsa penjajah yang harus dimusuhi. Segala sesuatu yang berasal dari Barat harus ditolak. Kelompok ini juga percaya, bahwa dalam Islam telah terdapat segala sesuatu yang ada di Barat dalam versi yang berbeda. Sikap seperti ini secara diametric bertentangan dengan kedua kelompok di atas, dan oleh Cheryl Bernard dinamakan Muslim fundamentalis dan diidentifikasi sebagai kelompok berbahaya.

Keempat, kelompok yang melihat Barat secara kritis dan obyektif, yaitu Barat adalah peradaban asing yang berbeda dari Islam dalam banyak hal. Tidak semuanya baik dan tidak juga buruk. Untuk menentukan baik buruknya perlu dilakukan kajian cermat dan sungguh-sungguh. Oleh sebab itu, kelompok ini tidak melihat Barat secara berlebihan, tidak apresiatif secara gelap mata, dan tidak juga mencaci secara membabi buta.

Keempat model pemahaman yang disampaikan belumlah dapat dijadikan sebuah representasi pandangan timur khususnya Islam terhadap Barat, sebab tidak berdasarkan sebuah kajian resmi. Namun setidaknya secara kasat mata demikianlah fakta yang terlihat di masyarakat. Tetapi sesungguhnya hal yang lebih substansi adalah apakah pemahaman oleh subyek itu sesuai dengan keadaan obyek yang dipahami?. Sebagai muslim, bagaimana seharusnya memahami Barat? Apakah memahaminya dari cara pandang muslim atau justru memahaminya berdasarkan cara pandang Barat?.

Jika pilihan pertama adalah jawabnnya maka kebudayaan Barat dengan berbagai konsep sentralnya dihadapkan secara vis a vis dengan peradaban Islam dengan konsep-konsep kuncinya. Pilihan ini akan melahirkan sikap kritis yang obyektif lagi konseptual.

Jika jawabnnya adalah pilihan kedua, maka identitas Islam sebagai peradaban dan muslim sebagai sebuah komunitas akan menjadi kabur, tergeser oleh berbagai konsep Barat, cara pandang dan beradaban mereka. Tentunya pilihan ini tidak mengindikasikan sebuah kekuatan, tetapi justru menunjukkan kelemahan.

Jika pertanyaan yang sama diajukan kepada para penganut konsep peradaban Barat terhadap Islam, maka realitas yang terjadi menunjukkan bahwa orang Barat ternyata melihat Islam dan muslim dari cara pandang mereka, bukan berdasarkan cara pandang Islam.

 

_____________

(*) Disadur dari artikel berjudul “Memhami Barat”, oleh Hamid Fahmi Zarkasyi, dimuat dalam jurnal “Islamia” Volume III, No. 2, Januari-Maret 2007

Print Friendly, PDF & Email