Muhammad Irfan Zain

Mengapa al Quran dan Sunnah ?

Kembali kepada al Quran dan Sunnah adalah kata yang biasa kita dengar diulang-ulang oleh para penyeru kebaikan.

Namun mengapa kita harus kembali kepada keduanya ?

Kita kembali kepada keduanya, karena keduanya adalah wahyu. Tentang keberadaan al Quran sebagai wahyu, Allah berfirman;

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ

“Al Quran ini telah diwahyukan kepadaku (Muhammad). [Surat Al-Anaam 19]. Tentang keberadaan sunnah sebagai wahyu, Allah berfirman;

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ * إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tiada Ia (Muhammad) berkata dari hawa nafsunya. Apa yang dinyatakannya itu tiada lain adalah wahyu yang disampaikan kepadanya.”. [Surat An-Najm 3 – 4]

Mengapa kita harus kembali kepada al Quran dan sunnah?

Karena kita semua adalah makhluk ciptaan. Maka kita semua butuh bimbingan Sang Maha Pencipta. Imam Ibnu Taimiyyah berkata;

وَالرِّسَالَةُ ضَرُورِيَّةٌ لِلْعِبَادِ لَا بُدَّ لَهُمْ مِنْهَا وَحَاجَتُهُمْ إلَيْهَا فَوْقَ حَاجَتِهِمْ إلَى كُلِّ شَيْءٍ وَالرِّسَالَةُ رُوحُ الْعَالَمِ وَنُورُهُ وَحَيَاتُهُ فَأَيُّ صَلَاحٍ لِلْعَالَمِ إذَا عَدِمَ الرُّوحَ وَالْحَيَاةَ وَالنُّورَ ؟ وَالدُّنْيَا مُظْلِمَةٌ مَلْعُونَةٌ إلَّا مَا طَلَعَتْ عَلَيْهِ شَمْسُ الرِّسَالَةِ وَكَذَلِكَ الْعَبْدُ مَا لَمْ تُشْرِقْ فِي قَلْبِهِ شَمْسُ الرِّسَالَةِ وَيَنَالُهُ مِنْ حَيَاتِهَا وَرُوحِهَا فَهُوَ فِي ظُلْمَةٍ ؛ وَهُوَ مِنْ الْأَمْوَاتِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : أَوَمَنْ  كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

“Keberadaan risalah (wahyu) adalah hal mendasar yang menjadi kebutuhan utama seluruh hamba. Kebutuhannya terhadap risalah ini melebihi kebutuhannya terhadap seluruh hajatnya yang lain. Risalah ini adalah ruhnya alam, cahaya dan kehidupannya. Maka kebahagiaan apakah yang akan didapatkan oleh alam ini jika ia kehilangan ruh, cahaya dan kehidupannya ?!.

Dunia ini adalah gelap dan terlaknat hingga terbitnya mentari wahyu.

Demikianlah seorang hamba, selama mentari risalah belum terbit menerangi hatinya; ruh dan kehidupan risalah belum menyelusup ke dalam relung hatinya; maka selama itu, ia akan tetap berada dalam kegelapan; selama itu, ia bagaikan mayat berjalan. Allah berfirman; “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya ?!.”. [Surat Al-Anaam 122].”. (Majmu’ al Fataawa; 19/93)

Mengapa al Quran dan Sunnah ?

Karena kebutuhan seorang muslim terhadap wahyu adalah hal pokok yang paling mendasar -sebagaimana telah diuraikan-. Sedangkan wahyu, tidak didapatkan langsung oleh manusia dari Allah, dan tidak pula dari Jibril. Rasulullah yang menyampaikannya kepada mereka. Olehnya, seorang muslim wajib meyakini seluruh yang bersumber dari Rasulullah; al Quran ataupun sunnah. Sebagaimana wajib bagi mereka untuk yakin bahwa seluruh yang valid berasal dari Rasulullah adalah baik dan benar.

Mengapa al Quran dan Sunnah ?

Karena pada keduanya terdapat jawaban dari seluruh masalah yang berkaitan dengan kemaslahatan dunia dan akhirat. Imam Syaafi’ie berkata;

فليست تنزل بأحد من أهل دين الله نازلة إلا وفي كتاب الله الدليل على سبيل الهدى فيها .

“Tidak satupun masalah yang melingkupi hamba melainkan di dalam al Quran terdapat dalil yang memberi petunjuk dan jawaban.”. (ar Risaalah; 1/15)

Olehnya, orang yang paling beruntung adalah mereka yang paling paham terhadap al Quran dan sunnah. Rasulullah bersabda;

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah hendaki kebaikan kepadanya, di dunia dan di akhirat, niscaya Ia akan memahamkannya terhadap agama.”. (HR. Bukhari)

Adakah keraguan ?

Setelah mengetahui, “mengapa al Quran dan sunnah ?”, adakah kita masih ragu ?

*) Tidak, karena Allah sendiri telah menjamin validitas al Quran.

*) Tidak, karena Rasulullah telah mengabari bahwa agama ini akan senantiasa terjaga di setiap zaman oleh orang-orang terpercaya.

Allah berfirman;

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”. [Surat Al-Hijr 9]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين

“Ilmu agama ini akan diemban oleh orang-orang terpercaya dan berintegritas disetiap zamannya. Mereka akan melenyapkan penyimpangan kelompok yang berlebihan, upaya licik penganut kebatilan untuk melenyapkan syari’at dan penyesatan orang-orang bodoh.”. (HR. Baihaqi)

Olehnya, seorang mukmin wajib menjadikan wahyu sebagai tolak ukur kebenaran. Ketika mereka berselisih dalam sebuah urusan, maka wajib mengembalikannya kepada wahyu. Allah berfirman;

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”. [Surat An-Nisa 59]

Dan jika telah tetap putusan Allah dan Rasul Nya, maka tidak boleh bagi seorang mukmin mengambil pendapat lain yang menyelisihinya. Allah berfirman;

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”. [Surat Al-Ahzab 36]

Olehnya, hendaklah setiap muslim berusaha untuk kembali lebih dekat kepada al Quran dan kepada sunnah yang merupakan penegasan, penjelasan dan penjabaran al Quran. Hendaknya setiap muslim kembali kepada wahyu.

Dan agar lebih dekat dengan al Quran, maka tidak cukup dengan membaca dan menghafalnya -meski keduanya adalah ibadah yang sangat dianjurkan dan bermanfaat-. Namun lebih dari itu, hendaknya seorang muslim juga memiliki perhatian yang besar untuk mempelajari hikmah dan kandungannya. Allah berfirman;

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan dan mempelajari Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci?.”. [Surat Muhammad 24]

Dan jangan sekalipun seorang berasumsi bahwa memahami al Quran itu adalah susah. Tidak demikian, bahkan memahami perkataan Allah itu jauh lebih mudah dari memahami perkataan siapapun makhluk di muka bumi ini. Hal demikian karena kesempurnaan Allah sebagai pemilik perkataan itu, kesempurnaan penjelasan dan petunjuknya, serta sempurnanya kemudahan yang diberikannya kepada hamba untuk membaca, menghafal dan mempelajari firman Nya itu. Allah berfirman;

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran itu, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?.”. [Surat Al-Qamar 17]

Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang mau dan tergerak untuk mengambil pelajaran dari wahyu Allah.

Print Friendly, PDF & Email
%d bloggers like this: