Print PDF eBook

Allah, Dzat Yang Bersemayam Di Atas 'Arsy

Satu diantara kewajiban seorang mukmin berkenaan dengan nama dan sifat-sifat Allah, yaitu meyakininya secara tekstual tanpa menafikan dan tanpa mengalihkannya dari makna dasar yang dimilikinya.

Satu diantara contoh sifat Allah adalah bersemayam di atas ‘Arsy (al istiwa’). Pernyataan ini didasarkan dari berbagai keterangan yang menyebutkan keberadaan Allah di atas langit dan bersemayam di atas ‘Arsy. Allah berfirman;

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Dia adalah Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ´Arsy.”. (Thaaha; 5). Dan diantara bukti yang menyatakan keberadaan Allah di atas langit adalah peristiwa isra’ dan mi’raj, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perjalanan ke langit ke tujuh menemui Allah dan mendapatkan perintah shalat lima waktu.

Terkait dengan sifat Allah, bersemayam di atas ‘Arsy, diantara manusia ada kelompok yang menolak makna tekstual dari berbagai keterangan yang menyebutkan bahwa Ia bersemayam di atas ársy, yang berada di langit. Dasar pemikiran mereka bahwa ;

*) Dengan menyatakan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy, berarti seorang telah membatasi Allah, berada di atas makhluk Nya yang terbatas.

*) Dengan menyatakan bahwa Allah berada di langit, berarti seorang telah membatasi Allah berada di arah (al jihah) tertentu.

*) Dengan menyatakan bahwa Allah berada di langit, di atas Arsy Nya, berarti secara tersirat ia telah menyatakan bahwa Allah butuh terhadap makhluk-Nya; karena langit dan Arsy adalah makhluk Allah.

Maka atas dasar tiga pertimbangan itu mereka meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang wujud (ada) tetapi tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di atas dan tidak pula di bawah; Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

Tanggapan ;
1. Siapupun di dunia ini, jika diminta untuk meyakini keberadaan sesuatu, pasti akan bertanya; “Apa sesuatu itu dan di mana ia berada ?!.”.

Bila demikian, adakah mungkin seorang akan beriman kepada Allah, tatkala mendengar bahwa Tuhan yang hendak diimaninya itu adalah sesuatu yang ada (wujud), tetapi tanpa diketahui keberadaan-Nya ?!. Logika apa yang bisa digunakan untuk membenarkan keyakinan seperti ini ?!.

Keberadaan Allah di atas langit sudah menjadi fitrah manusia. Olehnya, ketika anda sengaja mendatangi beberapa anak kecil dan bertanya kepada mereka, “Nak, Allah itu ada di mana sih ?.”. Dengan segela kepolosan mereka, dijawabnya pertanyaan itu; “Di langit … , di atas …. , di surga”. Subhanallah, maha suci Engkau ya Allah, yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya, mengakui keberadaan Mu di tempat yang maha tinggi.

Jangankan mereka -dengan segala kepolosan dan keluguannya-; Firáun –simbol pembangkangan, kedzhaliman, dan kesombongan- pun secara tidak disadarinya mengakui keberadaan Tuhannya Musa di atas langit. Hal ini nampak ketika Ia dengan penuh keangkuhannya menyuruh para tentaranya untuk membangun tangga hingga ke langit agar dapat melihat sendiri Allah –Tuhannya nabiullah Musa álaihissaläm-. Allah berfirman;

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَاهَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“Dan berkata Fir´aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (Al Qashash; 38)

Demikianlah fitrah yang Allah jadikan dalam diri manusia. Sesombong dan seangkuh apapun, pasti ia akan mengakui keberadaan Allah di tempat yang maha tinggi. Allah berfirman tentang Firáun dan orang-orang seperti mereka ;

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا

“Dan mereka ingkari Allah dengan segala kebesaran dan tanda-tanda keberadaan Nya, semata karena kesombongan, meski hati-hati kecil mereka mengakuinya.”. (An Naml; 14)

2. “Mereka yang menyakini bahwa Allah bersemayam di atas Arsy, yang berada di atas langit, secara tersirat menyatakan bahwa Allah butuh kepada makhluk-Nya, sebagai tempat bersemayam-Nya.”. Jika logika seperti ini dapat kita gunakan untuk menafikan keterangan jelas dari Allah, yang menyatakan bahwa Ia bersemayam di atas Arsy; lantas haruskah kita juga menafikan keberadaan para malaikat, yang sebagiannya Allah tugaskan untuk menjaga neraka, menjaga surga, membagikan rezki, mencatat kegiatan hamba, memberikan wahyu, mencabut nyawa, dan seterusnya. Apakah Allah menciptakan mereka semua, karena Ia berhajat kepadanya ?!.

Tentu seorang mukmin akan berkata, “tidak”. Maka sebagaimana seorang mukmin wajib meyakini bahwa Allah telah mencipatakan para malaikat itu karena hikmah yang diketahuinya dan bukan karena hajat Nya kepada mereka; demikianlah pula seorang mukmin wajib meyakini bahwa Allah telah menciptakan langit dan Arsy, dan Ia telah menetapkan bahwa Dirinya Yang Maha Mulia bersemayam di atas Arsy, dengan cara bersemayam yang sesuai dengan ke Mahabesaran dan ke Mahaagungan Nya, tidak satupun makhluk yang serupa dengan Nya. Ia menciptakan langit, Arsy, para malaikat dan seluruh makhluk karena hikmah Nya dan bukan karena hajat Nya kepada mereka.

3. Seluruh kaum muslimin meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang telah ada sebelum keberadaan seluruh makhluk ciptaan Nya. Ketika Allah menciptakan makhluk yang pertama, bukankah makhluk itu berada di suatu tempat, di luar Dzat Allah ?. Lantas di manakah Allah ketika itu ?!. Jawaban sederhananya adalah Ia berada di luar makhluk pertama ciptaan-Nya itu.

Keberadaan Allah di luar makhluk ciptaan-Nya, itulah yang dimaksud dengan “al makaan” (tempat) dan atau “al jihah” (arah). Keduanya bukanlah makhluk. Tetapi keduanya ada sebagai konsukwensi lazim dari keberadaan (wujud) Allah.

Selain itu, “tempat” dan “arah” mungkin juga diartikan sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah sebagai ruang dan dimensi untuk membatasi ruang gerak makhluk-Nya. “Tempat” dan “arah” dalam arti yang kedua ini memiliki batasan berbeda sesuai dengan makhluk yang menggunakannya. “Tempat” dan “arah” yang berlaku di alam manusia, di dunia adalah lebih sempit dari pada “Tempat” dan “arah” yang berlaku bagi mereka ketika telah berada di alam barzakh. “Tempat” dan “arah” yang berlaku di alam manusia di dunia adalah lebih sempit dari “Tempat” dan “arah” yang berlaku bagi jin di alam mereka. “Tempat” dan “arah” yang berlaku bagi jin di alam mereka adalah lebih sempit dari “Tempat” dan “arah” yang berlaku di alam malaikat, di sisi Allah. Inilah “Tempat” dan “arah” yang merupakan makhluk ciptaan Allah. Dan seluruh kaum muslimin sepakat menafikan keberadaan Allah pada “Tempat” dan “arah” dalam pengertian yang ke-2 ini.

Adapun “Tempat” dan “arah” dalam pengertian yang pertama, maka hal itu adalah merupakan hal lazim yang pasti mengiringi keberadaan sesuatu. Karenanya, merupakan hal mustahil jika seorang meyakini keberadaan sesuatu tanpa arah dan tempat. Dan olehnya itu pula, ulama berkata bahwa barangsiapa menyatakan bahwa Tuhannya ada tanpa tempat dan arah, maka ia sebenarnya menyembah hal yang tidak wujud dan hanya ada dalam alam khayalnya belaka.

Print Friendly, PDF & Email

Like this:

Like Loading...
%d bloggers like this: